Panel I Pertemuan Ilmiah Arkeologi XIII menyajikan 3 makalah, yaitu:

–  “Warisan Dunia untuk Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus Karst Sangkulirang-Mangkalihat)” oleh I Made Kusumajaya.

Kawasan karst Sangkulirang dan Mangkalihat memiliki luas 1,8 jt hektar dan menyimpan potensi keindahan alam dan budaya prasejarah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan, serta layak diusulkan menjadi warisan dunia alam dan budaya.”

IMG_9872

– “Sekilas tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Kawasan Kota Lama sebagai Identitas Modern” oleh Lucas Partanda Koestoro.

Dari puluhan bangunan kuna hanya beberapa saja yang dinyatakan sebagai bangunan yang layak mendapat perlakuan khusus oleh pemerintah (pusat dan daerah). Belum ada produk hukum yang memadai di Kota Medan yang mampu melestarikan sekaligus memanfaatkan kawasan kota lama sebagai identitas kemodernan.”

 

– “Dilema Pemugaran Bangunan Cagar Budaya dalam Regulasi Anggaran” oleh Wahyu Indrasana.

Swakelola secara otomatis akan mempersempit kesempatan pelestarian karena keterbatasan tenaga pada instansi yang menangani pelestarian cagar budaya, sedangkan pengadaan barang/jasa dapat menangani pelestarian beberapa bangunan secara bersamaan. “

 

Paparan tiap makalah dapat diunduh pada tautan di bawah ini.

[gview file=”http://kebudayaanindonesia.net/iaai/wp-content/uploads/2014/10/Warisan-Dunia-Untuk-Kesejahteraan-Masyarakat-Studi-Kasus-Karst-Sangkulirang-Mangkalihat-I-Made-Kusumajaya.pdf”]

[gview file=”http://kebudayaanindonesia.net/iaai/wp-content/uploads/2014/10/Sekilas-Tentang-Pelestarian-dan-Pemanfaatan-Kawasan-Kota-Lama-Sebagai-Identitas-Modern-Lucas-Partanda-Koestoro.pdf”]

[gview file=”http://kebudayaanindonesia.net/iaai/wp-content/uploads/2014/10/DILEMA-PEMUGARAN-BANGUNAN-CAGAR-BUDAYA-DALAM-REGULASI-ANGGARAN-Wahyu-Indrasana.pdf”]