http://kebudayaanindonesia.net/iaai

Sejarah IAAI

Sejak sarjana arkeologi pertama dilahirkan pada 1953, yaitu R. Soekmono dan Satyawati Suleiman, dunia arkeologi Indonesia mulai berkembang. Namun lulusan yang dihasilkan masih terbilang sedikit. Hingga 1963, di Indonesia terdapat 20-an sarjana arkeologi. Mereka tersebar di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) beserta cabangnya di Yogyakarta dan Denpasar, ditambah para pengajar dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Udayana (UNUD).

Upaya pembentukan wadah bagi para sarjana arkeologi mulai didengungkan pada 1963/1964 ketika R.P. Soejono dari LPPN mengadakan penggalian di Gilimanuk. Saat itu selain tenaga dari LPPN, disertakan pula mahasiswa UNUD, UGM, dan UI. Para mahasiswa ini berangkat  di bawah bimbingan sejumlah dosen muda. Ketika itu UNHAS belum memiliki jurusan arkeologi. Karena pendidikan arkeologi masih berusia muda, maka mata kuliah metode ekskavasi belum terselenggara di universitas mana pun.

Arkeolog Bersatulah

Alasan pemilihan situs Gilimanuk adalah karena banyak penduduk pesisir menemukan tulang manusia dan gerabah. Artefak-artefak itu tersingkap karena abrasi oleh air laut. Akhirnya Gilimanuk dijadikan situs penelitian yang diekskavasi hingga bertahun-tahun.

Di tepi pantai itu didirikan base camp berupa rumah dari bambu, gedek, dan atap alang-alang. Setiap hari mahasiswa dan dosen muda apel dan berbaris menghadap bendera. R.P. Soejono bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus pemimpin ekskavasi. Komandan upacara selalu melaporkan berapa orang yang siap bekerja dan berapa orang yang sakit.

Peserta upacara melakukan hormat bendera merah putih menghadap ke lautan lepas. Setelah sekian hari bekerja, peserta ekskavasi merasa satu, kompak bekerja, dan sama-sama menderita. Lahirlah di pesisir Gilimanuk itu ungkapan “Arkeolog Bersatulah”.

Setelah itu ada hasrat dari beberapa arkeolog untuk mengadakan pertemuan mahasiswa dan dosen muda dari tiga universitas di Yogyakarta. Dari UI hadir Ayatrohaedi, Hendari Sofion, Mundardjito, dan beberapa orang lagi. Sayang sekali pertemuan tahun 1965 itu terpaksa urung terlaksana karena beberapa mahasiswa UNUD meninggal akibat kegiatan G30S-PKI.

Para peserta pertemuan merasa sedih dan terharu. Bahkan Mundardjito, untuk pertama kali mendapat serangan asma. Atas desakan Teuku Jacob lah, Mundardjito mau dirawat di RS Panti Rapih. Gagallah upaya membentuk perhimpunan arkeolog dan calon arkeolog dengan semangat ‘Arkeolog Bersatulah’.

Metode Arkeologi

Tahun 1969 Dr. Harsya Wardana Bachtiar menawarkan beasiswa Pemerintah Yunani kepada dosen arkeologi FSUI, yaitu Nurhadi Magetsari dan Mundardjito. Ketika Mundardjito tanya mengapa tidak ke Negeri Belanda, beliau menjawab kalau ke Belanda sudah biasa, tetapi kan belum ada yang pernah ke Yunani, yang dikenalnya sebagai Mekah-nya arkeologi.

Nurhadi menggunakan kesempatan itu untuk mengumpulkan bahan guna menyusun disertasi, sedangkan Mundardjito memilih belajar mengenai metode arkeologi. Ketika itu Mundardjito bercita-cita setelah kembali ke Indonesia, beliau akan memberi mata kuliah tersebut, yang memang belum ada di UI, UGM, maupun UNUD.

Setelah satu tahun, Nurhadi meneruskan belajar ke Italia untuk studi di bawah bimbingan Prof. G. Tucci, sedangkan Mundardjito di Yunani belajar di bawah bimbingan Prof. Spyridon Marinatos, yang selain bertugas sebagai guru besar arkeologi di University of Athens, juga menjabat Director General of Museum and Antiquities, yang kedudukannya langsung di bawah Perdana Menteri G. Papadoupulos, bukan di bawah kementerian.

Pada tahun-tahun itu di Indonesia buku tentang teori dan metode arkeologi amat terbatas, sehingga Mundardjito diminta Prof. Marinatos untuk menggunakan buku sebanyak mungkin di perpustakaan American School of Archaeology, British School of Archaeology, Ecole Francaise, dll. Selanjutnya Mundardjito mengikuti praktek ekskavasi di situs Marathon dan di beberapa situs di Athena. Selain itu berkunjung ke berbagai situs dengan bantuan Prof. Marinatos dalam kedudukannya sebagai Dirjen. Pada 1971 Mundardjito kembali ke Indonesia dan dalam tahun berikutnya beliau sudah menyusun dan memberi mata kuliah Metode Arkeologi.

Studi Klub Arkeologi

Tahun 1972 Mundardjito disertakan LPPN untuk ekskavasi di situs prasejarah Pasir Angin (Bogor) di bawah pimpinan R.P. Soejono. Karena sudah memiliki pengalaman ekskavasi di Yunani, maka Mundardjito dapat melaksanakan tugas dengan jauh lebih baik daripada ketika masih belajar di Gilimanuk. Pada suatu waktu, Mundardjito bertemu dengan Soejono di Museum Pusat (sekarang Museum Nasional)yang sedang menganalisis tulang prasejarah. Dalam suasana obrolan santai, Mundardjito mengusulkan apakah arkeolog bisa membentuk perhimpunan terdiri atas peneliti, pelestari, dan pengajar, agar cita-cita untuk membuat perhimpunan semacam itu sebagaimana digagas di Gilimanuk dan Yogyakarta dapat terlaksana.

Mundardjito mengusulkan kepada Bambang Sumadio agar dibentuk perhimpunan yang diberi nama Studi Klub Arkeologi di FSUI. Perhimpunan itu merupakan tempat berdiskusi mengenai masalah penelitian arkeologi. Anggotanya terdiri atas mahasiswa dan dosen, dengan tujuan  mempererat hubungan mereka. Dalam perkembangannya kemudian Studi Klub Arkeologi itu diubah menjadi perhimpunan yang terdiri atas mahasiswa saja. Atas inisiatif mahasiswa Norman Edwin, perhimpunan itu dinamakan KAMA (Keluarga Mahasiswa Arkeologi).

Tahun 1973 LPPN meminta bantuan Mundardjito untuk ikut memimpin penelitian di Ratu Baka bersama Teguh Asmar dalam rangka kerja sama antara LPPN dan University Museum of the University of Pennsylvania (AS). Peserta sebanyak 90-an terdiri atas staf LPPN yang berpengalaman, dosen dan mahasiswa dari ketiga universitas,  asisten kurator Museum Pusat, dan peneliti dari The School of Oriental Studies dan Harvard University. Penelitian dipimpin oleh Dr. Bennet Bronson,  tidak hanya menggarap situs Ratu Baka, tetapi juga hingga wilayah yang cukup luas di dataran rendah.

Tahun 1975 program penelitian, pendidikan dan pelatihan semacam itu dilanjutkan di daerah Rembang dan sekitarnya. Penekanan pada tingkat penelitian analisis dan penerapan model-model. Dukungan dana diperoleh dari The JDR 3rd Fund (New York), The Ford Foundation, sumbangan perorangan dari The University of Pennsylvania Museum (Philadelphia) dan The Field Museum of Natural History (Chicago).

Lahir di Cibulan

Pada awal 1976, P4N (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, pergantian dari LPPN) menyelenggarakan seminar arkeologi untuk pertama kali di Indonesia, yaitu di Cibulan (Bogor). Sejumlah 39 peserta dari berbagai instansi yang menangani penelitian, pelestarian, museum, dan empat universitas (UNHAS, UNUD, UGM, UI) berdiskusi tentang berbagai perkembangan arkeologi di Indonesia.

Dalam sidang 3 Februari 1976, Mundardjito mengingatkan kembali perlunya membentuk satu perhimpunan yang gagasannya sudah diawali pada 1964 di Gilimanuk dan di Yogyakarta 1965 serta desakan Mundardjito kepada R.P. Soejono pada 1972 sekembalinya beliau dari Yunani.  Usul itu dikemukakan disertai pengalaman penelitian gabungan di Ratu Baka pada 1973 dan Rembang pada 1975 antara berbagai instansi yang terkait kepurbakalaan dengan lembaga pendidikan arkeologi di universitas-universitas. Semua peserta menyepakati pembentukan perhimpunan yang sudah lama diinginkan. Ditunjuklah kelompok kerja untuk membahas prosedur pembentukan perhimpunan, nama, tujuan, tempat kedudukan, keanggotaan, dan kepengurusan.

Kelompok kerja itu terdiri atas R.P. Soejono (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional), Hasan Muarif Ambary (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional),Teguh Asmar (Direktorat Sejarah dan Purbakala), Sukatno Tw. (Direktorat Sejarah dan Purbakala), Hadimuljono (Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang IV),  Ismanu Adisumarto (Kanwil Dep P dan K, Provinsi Jawa Tengah), Bambang Soemadio (Museum Pusat), Mundardjito (Universitas Indonesia), Harun Kadir (Universitas Hasanuddin), Rumbi Mulia (Departemen Perhubungan, Sektor Pariwisata), dan Machfudi Mangkudilaga (Arsip Nasional).

Akhirnya terbentuklah perhimpunan itu, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), pada 4 Februari 1976 dengan susunan pengurusnya. R.P. Soejono dipilih secara aklamasi sebagai ketua dengan wakilnya Bambang Sumadio. Mundardjito duduk sebagai sekretaris, dibantu oleh Hasan M. Ambary. Bendahara dijabat  Rumbi Mulia, dibantu Endang Sri Hardiati. Sementara pembantu umum adalah Sri Sujatmi Satari, dibantu oleh Boechari.

Selain pengurus pusat dibentuk lima komisariat, yaitu Jakarta/Jawa Barat (dipimpin Suwadji Sjafei), Jawa Tengah/DI Yogyakarta(Riboet Darmosoetopo), Jawa Timur (Tjokro Soedjono), Bali (I Putu Budiastra), dan Sulawesi (Hadimuljono). Beban tugas pertama bagi sekretaris ialah menyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran RumahTangga secepatnya.

Pada 1997 dimulai gagasan menyusun Kode Etik IAAI, setelah sekian kali dibahas dalam kepanitiaan khusus maupun kongres tiga tahunan. Akhirnya diresmikan dalam Kongres IAAI 2005. Hal yang belum dilaksanakan ialah penerapan dari kode etik untuk kepentingan organisasi dan para stakeholders.

Lambang IAAI

Lambang IAAI dibuat oleh Ir. Sampoerno Samingoen, alumni ITB yang banyak melakukan pekerjaan sebagai pemugar bangunan kuno. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) I di Cibulan (1977), Sampoerno memperlihatkan tiga gambar. Namun yang kemudian dipilih adalah gambar lampu yang diabstraksikan menjadi bentuk ratna dengan lidah api berwarna merah disertai tulisan IAAI.

Ketika itu tim penilai antara lain terdiri atas R.P. Soejono, Sujatmi Satari, Bambang Sumadio, Rumbi Mulia, Hasan M. Ambary, Mundardjito, Teguh Asmar, dan Machfudi Mangkudilaga. Lambang IAAI tidak sekaligus jadi, melainkan dirapatkan berulang kali.

Catatan:

Pada 1991, 1992, dan 1993, IAAI menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dalam program berjudul Indonesian Fieldschool of Archaeology (IFSA) seperti dilakukan pada 1973 dan 1975. Program ini diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bekerja sama dengan The Ford Foudation Jakarta. Gagasan program ini merupakan hasil diskusi Mundardjito dengan John N. Miksic ketika Mundardjito bekerja di Institute of South East Asian selama satu tahun.

Setelah itu diusulkan kepada Puslit Arkenas  dan Ford Foundation. Pesertanya seperti pada 1973 dan 1975 terdiri atas berbagai instansi kepurbakalaan dan empat universitas yang  memiliki jurusan arkeologi. Dalam program ini transfer pengetahuan dan pengalaman peserta selalu didorong dan menghasilkan diskusi-diskusi yang bermakna. Di antara peserta ada peneliti luar negeri, sementara pengajarnya dari dalam dan luar negeri yang dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.

Mulai 2008 UI memrakarsai Program Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia  (PATI) yang pesertanya terdiri atas mahasiswa dan pengajar dari keempat universitas (tidak dengan peneliti dari instansi terkait).

Leave a Reply

  • Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

    Jl. Jenderal Sudirman, Kompleks Kemdikbud,
    Gd. E Lt. 4, Senayan-Jakarta 10270
    iaai@kebudayaanindonesia.net